Thursday, March 7, 2013

"MARI BERTANGGUNG JAWAB DENGAN SAMPAH YANG KITA BUAT

"sampah" sebuah kata benda yang kita hadapi semenjak kita akan beraktifitas sampai menjelang kita tidur. berbagai aktifitas yang kita lakukan kebanyakan menghasilkan sampah  tetapi seringkali kita acuh dengan sampah yang kita produksi, karena kita merasa sudah membuang sampah di tempat sampah atau sudah merasa membayar iuran sampah di kampung yang jumlahnya tidak lebih dari Rp 30.000. dengan begitu kita merasa urusan sampah selesai. tetapi apakah kita pernah berpikir lebih jauh akan diapakan sampah-sampah tersebut setelah kita buang? jawabannya mungkin di buang ke TPA (tempat pembuangan akhir sampah). ketika sampah dikumpulkan dalam satu tempat berbagai persoalan akan muncul, semakain banyak sampah semakin banyak persoalan yang ditimbulkan misalnya bau yang tidak sedap, pencemaran air, tanah dan hewan-hewan yang menyebarkan penyakit berkeliaran di sekitar wilayah  TPA. ujung-ujungnya semua pihak saling menyealahkan jika TPA menyebabkan masalah lingkungan, padahal akar permasalahannya berawal dari diri kita masing-masing sebagai produsen sampah. adaikan sampah-sampah tersebut tidak dikumpulkan dalam jumlah yang banyak pasti pengelolaannya akan mudah.
melalui media ini saya ingin berbagi bagaimana menyelesaikan sampah secara mandiri atau selesai dalam lingkungan rumah tangga sebagaimana yang saya lakukan. pertama saya pisahkan sampah organik, anorganik dan sampah plastik. sampah organik dari sisa-sisa makanan rumah tangga saya gunakan untuk makanan menthok, kenapa menthok? ada beberapa keunggulan menthok diantaranya menthok adalah hewan yang mudah diternakkan dan mau makan apa saja dari sisa-sisa makanan rumah tangga, menthok juga relatif tahan penyakit dibanding unggas lainnya. saat ini menthok belum banyak dimanfaatkan dagingnya karena kurang familiar dikalangan masyarakat, padahal daging menthok lebih organik dibanding daging ayam potong, dagingnya juga lebih banyak dan harganya jauh lebih murah dibanding daging ayam atau bebek. tidak familiarnya menthok sebagai bahan makanan juga karena baunya yang anyir. namun semuanya bisa diatasi dengan tehnik dan aneka bumbu masakan yang dapat menghilangkan bau anyir tersebut. saya mencoba mangatasi masalah itu dengan membuat aneka olahan daging menthok agar lebih mempunyai nilai ekonomi. misalnya abon menthok. abon ini selain bisa langsung dikonsumsi juga dimanfaatkan untuk industri aneka kue-kue kering.
sampah organik lain misalnya daun-daun kering saya komposkan untuk diambil gas metannya (dengan teknik biotherma) maupun pupuk organiknya. gas metan dari sampah bisa digunakan untuk memasak sebagai ganti gas elpiji. sedangkan pupuk organik saya gunakan untuk pupuk tanaman. dari pupuk ini saya terinspirasi untuk mengembangkan usaha tanaman baik tanaman buah, tanaman hias maupun tanaman obat keluarga serta tanaman sayuran yang bisa dikonsumsi sehari-hari. semua usaha tersebut tidak membutuhkan modal besar karena menggunakan alat-alat sederhana yang sudah ada di rumah, untuk mendapatkan bibit tanaman juga tidak perlu modal besar, dengan membeli satu atau dua tanaman kemudian dikembangkan sendiri misalnya dengan teknik okulasi.
untuk sampah-sampah anorganik yang laku dijual lebih praktis saya jual, sedangkan sampah-sampah palstik yang tidak laku dijual saya olah menjadi kerajinan yang bernilai salah satunya digunakan untuk membuat pot batik yang saya beri nama "pot batik sampah". sebenarnya banyak kreasi yang bisa kita buat dari aneka sampah dengan sedikit sentuhan kreatifitas.
dari semua sampah yang saya produksi setiap hari hanya sedikit yang tidak bisa didaur ulang misalnya diapers atau pembalut dan yang sejenisnya, untuk kedua sampah tersebut terpaksa saya kubur di tanah, untungnya jumlahnya tidak banyak. saya menerapkan pengolahan sampah ini bersama keluarga termasuk kedua anak saya yang masih berusia 3 dan 5 tahun, mereka mulai terbiasa membuang sampah ke tempat sampah sesuai dengan jenis sampahnya. dengan cara seperti ini maka tidak perlu lagi sampah sampah dikumpulkan di TPA karena bukankah produsen sampah seharusnya bertanggung jawab terhadap sampahnya sendiri? melalui media ini saya mengajak semua elemen masyarakat untuk berbagai ide bagaimana menyelesaikan masalah sampah yang notabene adalah masalah kita semua. silakan kirim berbagai tulisan tentang penyelamatan lingkungan melalui media ini. saya tunggu ya............                   

No comments:

Post a Comment